m.g.m.p kimia kab. kendal

Ikon

Chemistry, Key to the Earth

Pengajaran Sains di Laboratorium

chemistry.jpg

Pada bulan September tahun 1928, seorang peneliti mikrobiologi di rumah sakit St. Mary, London, yang baru pulang dari liburan kembali ke laboratorium tempat dia bekerja. Pada hari itu awalnya dia bermaksud untuk membersihkan kultur bakteri yang ada di cawan petri. Berbagai jenis bakteri biasanya dipelihara dalam cawan petri yang telah disediakan nutrisi supaya mereka bisa berkembang biak dan menjadi bahan percobaan. Pada saat memulai membersihkan dengan disinfektan, dia mendapati ternyata salah satu kultur bakteri yang dia tinggalkan seminggu sebelumnya ternyata di satu cawan petri tidak dapat mengkoloni semua permukaannya. Bakteri tersebut gagal berkembang biak di satu cawan petri yang telah tumbuh sejenis jamur misterius di dalamnya. Secara cepat dia menyimpulkan bahwa terdapat zat khusus dalam jamur yang mampu membunuh bakteri, yang kemudian disebutnya antibiotik. Dia meramalkan bahwa zat khusus tadi dapat mengobati berbagai penyakit infeksi oleh bakteri. Ramalannya terbukti saat pemakaian pertama penisilin, zat dari jamur tersebut, pada satu pasien di rumah sakit New Haven, Amerika Serikat pada tanggal 14 Maret 1942, yang berangsur sembuh dari infeksi dan keracunan dalam darahnya. Alexander Fleming, peneliti tersebut, menjadi sangat terkenal dan hasil karyanya itu pun mendapat penghargaan hadiah Nobel pada tahun 1945.

Kisah eksperimen asal muasal penisilin yang kebetulan ini sangat terkenal, sering dikutip dan dianggap sebagai salah satu tonggak percobaan dan penemuan dunia medis terpenting. Namun berbagai riset tentang penemuan sains ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Ada beberapa hal yang justru menjelaskan bahwa “percobaan kebetulan” ini tidaklah sederhana yang selama ini dikira.

Khasiat jamur sebagai antibiotik sudah dikenali jauh sebelum penemuan Fleming tahun 1929 itu. Pada tahun 1875, John Tyndall menjelaskan hasil risetnya bahwa jamur Penicillium glaucum membuat beberapa jenis bakteri mati. Ernest Duchesne di tahun 1897 membuktikan bahwa hewan yang sakit karena infeksi baketri dengan penyuntikan Penicillium glaucum ternyata mengalami perbaikan. Keunikan dari “percobaan” Fleming adalah jamur yang tidak sengaja dia biakkan tersebut adalah jenis jamur Penicillium notatum yang ternyata lebih mematikan efeknya bagi bakteri.

Pada saat Fleming berusaha mereplikasi percobaan, ternyata hal ini tidak mudah, berulang kali dia gagal. Penyebabnya karena jamur Penicillium notatum species yang sangat jarang ditemui, serta kemungkinannya berkembang biak di cawan petri pun sangat kecil. Hal ini kemudian dapat dia tanggulangi salah satunya dengan menyesuaikan suhu ruangan pada saat dia liburan sebelum kembali kerja yang memang dingin. Pada saat lain dimana jamur itu bisa tumbuh dengan baik tapi ternyata tidak mampu membunuh koloni bakteri yang ada di cawan petri. Hal ini baru terpecahkan pada tahun 1957 oleh James Park dan Jack Strominger dimana keyakinan Fleming bahwa penisilin menembus sel bakteri kemudian menghancurkannya ternyata tidaklah tepat, yang terjadi adalah penisilin menganggu proses pembelahan bakteri dan mencegah sintesis bahan pembentukan dinding sel bakteri. Sehingga bila koloni bakteri sudah lebih dahulu terbentuk dalam satu cawan petri, maka penisilin tidak akan efektif lagi, seperti yang dialami Fleming.

Yang paling menentukan adalah, bahwa Alexander Fleming tidak mencoba mengisolasi zat aktif dari jamur Penicillium notatum dalam jumlah banyak ataupun menguji khasiat medisnya pada binatang atau manusia. Yang mengembangkan penisilin dalam jumlah banyak serta mengujicobakan adalah Howard Florey, Ernst Chain dan Norman Heatley dari Universitas Oxford. Mereka mulai melakukan riset untuk produksi dan efek medis penisilin mulai tahun 1938 tanpa bimbingan apapun dari Fleming, satu dari mereka malah menganggap dia sudah meninggal, sampai sukesnya percobaan khasiat antibiotik ini pada manusia di rumah sakit New Heaven itu pada tahun 1942.

Cerita kehebatan penemuan penisilin oleh Fleming juga bisa diibaratkan dengan kegiatan percobaan/eksperimentasi oleh siswa pada pelajaran sains di sekolah. Biasanya berbagai materi praktikum yang dilakukan oleh siswa luar biasa, bertujuan untuk mengungkap fakta-fakta sains ataupun memverifikasi teori-teori sains. Padahal percobaan tersebut dilakukan oleh siswa yang tidak berpengalaman, dilakukan dalam waktu yang singkat, dengan alat yang tidak presisi dan bahan yang tidak terlalu murni serta dilakukan melalui tahapan kegiatan seperti halnya resep makanan. Uniknya hasil percobaan seperti ini bisa sukses menghasilkan data yang kemudian bisa menyimpulkan kebenaran satu fakta ilmiah atau teori sains. Seperti halnya ditunjukkan oleh berbagai penemuan sains seperti kasus penisilin, terdapat jarak waktu yang panjang, kerja keras oleh ilmuwan yang berpengalaman, alat dan bahan riset yang mahal, dan kemampuan intelektual saintis untuk bisa menghuhungkan data mentah sebagai landasan teori serta mengkomunikasikan hal tersebut di komunitas mereka. Bila kita menganggap bahwa percobaan yang dilakukan oleh siswa membawa pada pemahaman yang lebih bagus pada sains, maka kita sebagai guru telah melakukan simplifikasi. Sehingga diperlukan perspektif lain untuk memahami kegiatan percobaan sains di sekolah oleh siswa ini, dan menggunakan hal tersebut untuk merekonstruksi supaya kegiatan ini memberikan efek yang lebih bermakna.

Pengajaran sains dan praktek laboratorium

Salah satu keunikan yang terdapat dalam pelajaran sains dibanding pelajaran lain di sekolah adalah praktek laboratorium. Lalu apa yang dimaksud dengan praktek laboratorium? Secara sederhana ini adalah kegiatan praktek dan eksperimen yang melibatkan guru dan murid serta bahan pembelajaran seperti prosedur percobaan dan pemakaian alat dan bahan, yang biasanya dilakukan di laboratorium sains.

Seperti sudah diuraikan dalam ruang lingkup sains, tujuan pengajaran sains di sekolah bisa sangat beragam, yaitu: sains sebagai produk, sains sebagai proses, sains-teknologi dan masyarakat ataupun sains untuk pengembangan sikap dan nilai, dan pendekatan ketrampilan personal dan sosial. Secara keseluruhan berbagai kemungkinan tujuan pengajaran sains ini bisa diwujudkan melalui pengajaran sains di laboratorium.

Sains sebagai produk atau sains buku teks adalah pengajaran tubuh pengetahuan sains yang terdapat dalam buku pelajaran sains. Berbagai topik bahasan sains di sekolah biasanya diajarkan dengan beragam konsep dan keterkaitannya, serta hubungan antara berbagai konsep tadi dengan, hukum-hukum alam, penjelasan teoritis, beragam diagram, contoh perhitungan, eksperimen dll. Di Indonesia selama ini apa yang harus diajarkan dan susunan materi pelajarannya sudah ditentukan secara nasional oleh pusat kurikulum di kantor Depdiknas di Jakarta. Pada saat pembuatan isi kurikulum terdapat suatu konsensus diantara perancangnya tentang detail bagian mana yang menjadi topik sains yang harus diajarkan dan pada tingkatan mana hal itu diajarkan. Sehingga pengarang buku teks dan guru sains di negara kita tinggal mengikuti apa yang sudah ditetapkan tersebut. Eksperimen dan praktik laboratorium merupakan bagian dari metoda pengajan sains ini. Bekerja di labratorium sains adalah suatu hal yang melibat benda nyata dan juga mengamati perubahan yang dapat diamati. Ketika sains bergerak melampaui dunia pengalaman menuju gereralisasi yang lebih abstrak yang memungkinkan penjelasan dan peramalan, pengalaman secara dekat adalah titik awal untuk generalisasi ilmiah dan pembuatan teori. Sehingga praktik laboratorium dan eksperimen merupakan bagian yang esensial dalam pengajaran sains sebagai produk ini. Pengajaran sains melalui metoda praktek lab dapat berperan sebagai: a) untuk memberikan realitas yang lebih nyata dan tiga dimenasi daripada sekedar penjelasan tertulis, persamaan matematik atau diagram seperti yang ada di buku teks; b) untuk memberikan bayangan realitas yang memang butuh penjelasan; c) untuk melatih penggunaan alat-alat laboratorium dan teknik penggunaannya; dan d) untuk menguji atau mengkonfirmasi perkiraan-perkiraan teori-teori ilmiah. Oleh karena itu pengajaran sains buku teks memerlukan berbagai pendekatan yang beragam dan cocok dalam pemakaian metoda praktek laboratorium, hal ini akan dijelaskan lebih lengkap kemudian.

Suatu hal yang sangat jelas terlihat adalah potensi praktek laboratorium yang bisa dimanfaatkan untuk melatih dan mengembangkan keahlian siswa dalam memacahkan masalah secara ilmiah. Ketika tujuan ini ditetapkan hal yang perlu dilakukan guru untuk memaksimalkannya adalah memberikan kesempatan waktu pada siswa yang lebih banyak supaya mereka bisa berpikir, berdiskusi, membuat perencanaannya sendiri dna untuk berefleksi atas hasil yang didapat.

Dalam hal pengajaran sains-teknologi dan masyarakat, terdapat dua komponen yang terintegrasi: sains itu sendiri dan cara sains tersebut berinteraksi baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Hal yang dapat diharapkan dari guru sains adalah sebanyak mungkin menarik perhatian siswa dengan melibatkan apa yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan siswa berada. Cara yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat dan bahan percobaan yang ada di lingkungan sekitar dibanding alat dan bahan yang hanya ada di laboratorium.

Melibatkan murid dalam praktek laboratorium juga bisa digunakan untuk pengembangan sikap dan nilai siswa terhadap sains. Tabel di bawah ini merangkum praktrek laboratium pada pengajaran sains dibagi dalam tiga ranah: kognitif, psikomotor dan afektif.

Tabel 1. Berbagai Tujuan Praktik Laboratoium

Ranah

Tujuan
Kognitif meningkatkan perkembangan intelektualmemperkuat pembelajaran konsep-konsep ilmiahmengembangkan keahlian pemecahan masalah

mengembangkan cara berpikir kreatif

meningkatkan pemahaman sains dan metoda ilmiah

psikomotor mengembangkan keahlian melakukan investigasi ilmiahmengembangkan keahlian menganalisis data investigasimengembangkan keahlian berkomunikasi

mengembangkan keahlian bekerja sama

Afektif memperkuat sikap positif terhadap sainsmeningkatkan persepsi yang positif terhadap kemampuan siswa untuk memahami dan untuk mempengaruhi lingkungannya

Keterbatasan Pengajaran Sains di Laboratorium

Disamping berbagai potensi yang bisa digunakan, berbagai hasil riset juga mencatat keterbatasan dari praktek laboratorium yang selama ini dilakukan di sekolah. Sebagai contoh, ketika pengajaran sains yang dilakukan dengan metoda praktek laboratorium dibandingkan dengan metoda lainnya seperti sistem klasikal (ceramah) atau demonstrasi (oleh guru ataupun siswa) ternyata tidak menunjukkan peningkatan prestasi siswa kecuali dalam hal keterampilan siswa dalam penggunaan alat-alat laboratorium. Guru yang pernah melakukan praktek laboratorium juga mengalami, bahwa praktek laboratorium membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk persiapan alat dan bahan, kesulitan dalam mengatur dan mengawasi siswa dalam berpraktek, prosedur percobaan yang sulit dipahami siswa dan kemungkinan siswa membuat kesalahan di setiap saat, dan hasil yang diinginkan dan pemahaman yang diharapkan dari siswa pun biasanya jauh dari yang direncanakan dari kegiatan praktek ini.

Pada umumnya kegiatan praktek laboratium diarahkan pada upaya supaya siswa dituntut untuk menguji, memverifikasi atau membuktikan hukum atau prinsip ilmiah yang sudah dijelaskan oleh guru atau buku teks. Ada juga percobaan yang dirancang oleh guru adalah para siswa disuruh melakukan percobaan dengan prosedur yang sudah terstruktur yang membawa siswa kepada prinsip atau hukum yang tidak diketahui sebelumnya dari data empiris yang mereka kumpulkan hasil dari percobaan tersebut. Namun terdapat berbagai kelemahan dasar dari cara seperti ini, secara logis prinsip ilmiah dan hukum alam tidak dapat dibuktikan secara langsung; prinsip ilmiah dan hukum alam juga tidak dapat diuji hanya dengan jumlah percobaan yang terbatas yang dilakukan oleh siswa. Keterbatasan alat yang digunakan, keterampilan yang dipunyai, waktu yang singkat dan kompleksitas generalisasi, merupakan keterbatasan percobaan siswa yang menunjukkan hal yang hebat kalau siswa bisa menghasilkan prinsip teoritis yang penting dari sekumpulan data mentah hasil percobaan.

. Van den berg and Giddings (1992) misalnya mencatat bahwa terdapat lima kelemahan yang terdapat praktik laboratorium dalam pengajaran sains di sekolah, yaitu: a) kurangnya pembedaan antara prioritas dan sasaran kegiatan; b) kelemahan dalam pilihan eksperimen yang biasanya dilakukan, sepertri percobaan untuk menguji prinsip ilmiah; c). ketidaksesuaian antara tujuan praktek laboratium dengan prosedur percobaan yang tertulis; d). ketidaksesuaian antara tujuan praktek laboratorium dengan strategi pengajaran; e). ketidaksesuaian antara tujuan praktek laboratorium dengan penilaian yang dilakukan.

Para pengembang kurikulum terlanjur percaya dengan pepatah Cina kuno yang mengatakan “Saya dengar dan saya lupa, saya lihat dan saya ingat, saya coba dan saya bisa”. Namun kenyataan yang ada tidak seperti itu, malah yang suka terjadi “Saya coba dan saya makin bingung”. Hal ini terjadi karena yang lebih menonjol adalah paradigma sains sebagai produk yang diterapkan dalam kegiatan pengajaran laboratorium.

Jenis-jenis Kegiatan Praktik Laboratorium

Dawson (1994) menyebutkan paling tidak ada delapan hasil yang diharapkan yang dapat diperoleh dari kegiatan praktik laboratorium, yaitu:

1. memotiviasi siswa

2. meningkatkan pemahaman tentang konsep dan teori sains

3. mengembangkan keterampilan dalam penggunaan alat-alat lab

4. memperbaiki ketarampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah secara ilmiah

5. mengembangkan sikap positif terhadap sains

6. meningkatkan keterampilan personal dan sosial

7. melengakapi referensi yang kongkrit dari kerja buku teks

8. memberikan kesempatan siswa untuk berlatih metoda ilmiah

Dengan memperhatikan berbagai keterbatasan pengajaran sains dengan metoda laboratorium dan hasil yang diinginkan van den Berg dan Giddings (1992) menyarankan jenis kegiatan yang efektif dilakukan adalah: mengembangkan keterampilan dan teknik (pelatihan), memberikan pengalaman yang nyata (pengalaman) dan memberikan pelatihan pemecahan masalah (investigasi).

1. Pelatihan

Fokus dari kegiatan pelatihan adalah mengembangkan keterampilan praktek dan teknik siswa. Kebutuhan akan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan siswa dan melibatkan mereka lebih dekat lagi dengan alat, bahan dan prosedur kerja di laboratorium. Jenis-jenis kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah pengamatan (observasi), pengukuran, pendugaan (estimasi) dan manipulasi. Diharapkan melalui jenis kegiatan ini siswa mempunyai pengetahuan dan keterampilan penting sebelum melakukan kegiatan lainnya di laboratorium.

Tabel di bawah menampilkan contoh-contoh percobaan laboratorium untuk jenis kegiatan pelatihan ini. Berbagai praktik laboratorium ini membutuhkan keahlian siswa yang sifatnya sederhana sampai ke yang relatif sulit. Hal lainnya yang juga perlu dikuasi oleh siswa adalah mencatat dan mengumpulkan data secara akurat, yang tampaknya sepele namun sifatnya sangat penting dalam setiap praktek laboratorium yang dilakukan oleh siswa di sekolah.

Berbagai Contoh Praktek Laboratorium Pelatihan

Fokus keterampilan Contoh-contoh percobaan
Pengamatan/Observasi melakukan observasi dan menjelaskan

  • pembakaran lilin
  • pengaruh panas terhadap berbagai bahan kimia melalui pengamatan secara langsung, lensa ataupun mikroskop
  • struktur kertas, serat, sel bawang
Pengukuran Pengukuran yang melibatkan dimensi

  • panjang, luas, isi dan berat
Pendugaan/estimasi estimasi berbagai dimensi dan pengukuran

  • ukuran ruang dan volume
  • banyaknya daun dalam satu pohon
Manipulasi menggunakan timbangan, membuat larutan, memakai mikroskop, memindahkan dan menuangkan cairan dll.

Berbagai hasil riset mengungkapkan bahwa pengajaran berbagai keterampilan ini sangat berguna. Biasanya guru dan instruktur lab tidak menyadari prasyarat keterampilan yang seharusnya dikuasai, namum belum juga dikuasai siswa secara bagus. Mereka biasanya menganggap bahwa kemampuan dasar rata-rata siswa sudah cukup bagus untuk melakukan praktik laboratorium. Kenyataannya, keterampilan psikomotor yang dibutuhkan dalam praktik laboratorium sepenting kemampuan kognitif.

Hasil riset tentang metoda pelatihan ini mengambarkan keterampilan laboratorium yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas, yaitu:

  1. latihan yang terencana selalu dihubungkan dengan kinerja laboratorium yang juga bagus
  2. Kemahiran penguasaan keterampilan laboratorium melibatkan cara-cara teknis dan manipulasi peralatan, seorang pelajar membutuhkan untuk tahu apa yang harus dilakukan dan keterampilan yang berulang. Hal ini membutuhkan latihan dalam waktu yang lama, sehingga kompetensi berkembang selama pelatihan ini. Saat keterampilan ini dikuasai dengan baik, maka biasanya akan terus dikuasi.
  3. Pembelajaran keterampilan motorik dengan pengamatan atau demonstrasi memerlukan penekanan pada hal yang beragam baik dalam kondisi latihan maupun mekanisme umpan baliknya.
  4. Empat fase yang sangat penting dalam menguasai keterampilan psikomotor: persepsi, motivasi, imitasi dan latihan
  5. Mengajarkan keterampilan psikomotor yang kompleks memerlukan tiga tahapan yang berbeda: pengenalan, pelatihan dan penyempurnaan

Berbagai penulis setuju bahwa aktivitas pelatihan dapat secara efisien dikuasai dalam waku yang tidak terlalu lama sebelum praktek laboratorium yang sesungguhnya dimulai. Hal yang bagus bila pelajaran dalam menggunakan fasilitas laboratorium ini diberikan secara khusus dan dibedakan dari kegiatan praktikum lain. Pada beberapa keterampilan yang sederhana diperlukan beberapa menit saja untuk dikuasai. Namun waktu yang lebih lama dibutuhkan bahkan satu perioda waktu praktik laboratorium seperti untuk penguasaan dalam menggunakan mikroskop. Adalah hal yang penting untuk mengimbangi waktu yang dibutuhkan keterampilan dasar dan waktu yang dibutuhkan untuk memahami konsep sains. Yang biasa terjadi adalah mempelajari keteraml;ilan laboratoruum yang baru ternyata mengalihkan perhatian siswa dari komponen pengetahuan ilmiah yang harsunya dipahami. Sehingga guru perlu untuk merencanakan latihan percobaan lab yang membentuk keterampoilan siswa dan juga menyenangkan pada saat yang sama. Penguasaan keterampilan mensyaratkan kinerja yang lebih tinggi yang juga diperoleh dari bimbingan terstruktur dan metoda pengajaran yang tepat. Sehingga, penguasaan keterampilan tertentu membutuhkan prosedur yang hati-hati yang tidak hanya sanat terstruktur namun juga menyenangkan yang membuat siswa makin percaya diri.

2. Pengalaman

Yang dimaksud dengan pengalaman adalah kegiatan laboratorium yang sifatnya memberikan interaksi langsung yang nyata pada siswa melalui panca inderanya. Karena pelajaran sains salah satunya bertujuan untuk memberi arti tentang dunia fisik dimana kita hidup, maka sudah sewajarnya siswa dapat merasakan dan mengalami petualangan belajar sains melalui kegiatan eksperimentasi. Kegiatan eksperimentasi pengalaman bermaksud mengajarkan konsep sains dengan kegiatan praktek/percobaan secara terintegrasi dan juga bisa mengarah pada ilustrasi dimana guru dan siswa sudah sedikit tahu tentang konsep sains dan kesimpulan yang kemungkinan ditujunya. Tabel berikut memberikan beberapa contoh kegiatan laboratorium yang masuk dalam kelompok pengalaman ini.

Beberapa contoh Praktek Laboratorium bersifat Pengalaman

Contoh-contoh percobaan laboratorium
Pembedahan tanaman, bunga dan buah.Perawatan hewan, vertebrata and avertebrata.Pengamatan oragnisme sederhana bergerak (amoebae).

Pertumbuhan kristal.

Pengamatan perubahan kimia dalam hal:

– warna

– terbentuknya endapan

– pembentukan gas

– perubahan energi

Tekanan udara dalam alat suntik/pompa

Tekanan udara di atas dan sekeliling lilin yang menyala

Vibrasi beragam panjang penggaris di ujung bangku

Alasan utama dari kategori percobaan ini adalah untuk memahami konsep teoritis dibelakang fenomena sains tertentu, serta memberikan bentuk nyata terhadap model atau teori yang telah disampaikan. Lebih jauh lagi Dawson (1994) berpendapat bahwa terdapat banyak keuntungan dalam hal ini daripada sekedar merasakan sendiri, yaitu:

1. Sumber imajinasi yang akan membantu siswa melihat sains dalam bentuk tiga dimensi, dan menggunakan ini untuk menghubungkan dengan sains yang dua dimensi yang terdapat di buku dan catatannya.

2. Memperkuat keterampilan yang dibutuhkan dalam kerja laboratorium secara tepat dan aman

3. Memingkatkan motiovasi dan saya tarik

4. Pengembangkan keterampilan komunikasi melalui prosedur pelaporan dalam bentuk lisan ataupun tertulis

5. Melakukan latihan untuk menampilkan hasil dalam bentuk lain seperti grafik dan perhitungan.

Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa siswa di masa usianya mempunyai pengalaman yang panjang dalam hal pengamatan fenomena sains di luar laboratorium sekolah dan tentunya pengalaman tersebut bisa menjadi bahan belajar yang bisa digunakan untuk bahan dikusi latar nelakang konsepnya.

3. Investigasi

Setelah siswa menguasai berbagai keterampilan kerja di laboratorium dan memahami serta mengenali beragam konsep sains yang penting, maka mereka dapat melakukan aktivitas laboratorium yang lebih tinggi tingkatannya, kegiatan ini dinamakan investigasi. Kegiatan investigasi paling tidak terdapay dua jenis, pertama jawaban akhir tidak diberikan tetapi terdapat bimbingan mengenai bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah dan ada harapan hasil seperti apa yang diinginkan; kedua adalah investigasi yang bersifat terbuka, aktivitas ini tidak harus selalu mendapat jawaban bahkan mungkin tidak terdapat penyelesaian yang memuaskan sehingga siswa bertanggungjawab penuh terhadap seluruh proses dari upaya penyelesaian masalah, koleksi data, membuat kesimpulan dan kemungkinan penyelesaian.

Kegiatan investigasi kemungkinan dibuat dalam struktur yang tertentu sepertri pada pengenalan dan pengalaman, tetapi pada tahapan tertentu siswa didorong untuk membuat keputusan sendiri atas percobaannya. Sehingga hal yang penting disini adalah pembuatan keputusan tidak hanya sekedar ketarampilan memecahkan masalahnya saja.

Terdapat paling tidak empat alasan utama kenapa investigasi penting dilakukan pada siswa dalam hal pendekatan pengajaran sains di laboratorium:

1. siswa berprilaku seperti ilmuwan; mereka bekerja aktif menghasilkan pengetahuannya sendiri tidak hanya sekedar penerima pasif saja.

2. Kegiatan laboratorium menjadi pusat dari kegiatan belajar sains dan didalamnya siswa menentukan keputusannya sendiri tidak sekedar apa yang diperintahkan ke mereka.

3. Keputusan dibuat terhadap masalah yang dihadapi

4. Pengetahuan ilmiah yang bersifat sementara akan diperoleh siswa.

Beberapa contoh Praktek Laboratorium bersifat Investigasi

Contoh-contoh percobaan laboratorium
Buatlah system klasifikasi sidik jari.Bagaimana menghasilkan toge paling banyak dari biji kacang hijau Investigasi factor apa saja yang mempercepat paku berkarat.Apakah burung yang besar terbang lebih cepat dibanding yang kecil?

Deterjen apa yang yang paling efektif dengan air panas? Air dingin?

Selotip apa yang paling bagus mutu dan harganya?

Buatlah system klasifikasi tanaman berdasar daunnya

Tabel di atas memberikan contoh mengenai berbagai kegiatan investigasi yang bisa dilakukan oleh siswa pada pelajaran sains, dimana kegiatan laboratoriumnya bersifat pertanyaan terbuka sehingga hasil yang didapatkan akan berbeda-beda.

Investigasi dapat dikatakan sebagai aktivitas yang menantang bagi siswa dan membuat mereka bekerja seperti ilmuwan disbanding aktivitas laboratorium lainnya. Keberadaan keterampilan yang khas yang dimiliki ilmuwan akan dengan sendirinya didapat oleh siswa seperti bagaimana percobaan dilakukan, analisis data sampai pada pembuatan kesimpulan.

Beberapa keterampilan seperti pengamatan, mengukur dan manipulasi sudah dilakukan dalam tahapan percobaan sebelumnya, namun perancangan dan perencanaan percobaan adalah sesuatu yang baru bagi mereka.

Dalam tahapan investigasi, siswa didorong untuk mempraktekkan semua keterampilan yang mereka kuasi disamping hal baru seperti perancangan percobaan. Ini menunjukkan bahwa siswa diarahkan untuk lebih kreatif, bisa bekerja sama dan memotivasi diri. Dalam investigasi guru lebih sedikit memberikan instruksi di depan kelas/kaboratorium, namun lebih banyak untuk bergerak melakukan pemeriksaan, membimbing dan mendukung kegiatan siswa. Diharapkan siswa lebih memahami kerja ilmuwan dan sadar bahwa kegiatan sains tidak selalu linear namun interaktif dan terus berkembang.

Sumber : http://deceng.wordpress.com/

Filed under: Uncategorized

9 Responses

  1. deceng mengatakan:

    Pak Yoshi tidak fair dong tulisan orangdari blog lain dianggap tulisan milik sendiri.

  2. checep05 mengatakan:

    aduh maaf… mas…, saya sebenarnya mau minta izin…, tapi …, kemarin keburu bandwith-nya trouble….
    mohon maaf…. sebelum dan sesudahnya…
    kalau tidak berkenan saya akan hapus….
    terima kasih dan mohon maaf….. sebesar-besarnya…

  3. Laura mengatakan:

    tolong donk ksh tw keterangan ttg alat2 lab kimia ya?! klo cm kyk di ats sih kt jg udh gw tw.

  4. RIYAN KUSUMA mengatakan:

    SAYA LAGI DALAM STUDI KIMIA SEMESTER 5 DI PADANGSIDIMPUAN JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA, SAYA MASIH CUKUP KURANG TENTANG KIMIA, BAGAMANA LANGKAH KITA BIAR PENGETAHUAN, PERHITUNGAN, DAN PRAKTEK LAB BISA DIKUASAI, KARENA FASILITAS LAB, BUKU PERPUTAKAAN KURANG, BAGAIMANA SOLUSINYA BIAR BISA DIIKUTI PELAJARAN KIMIA YANG ADA DIKOTA BESAR ATAU KAMPUS YANG OK, SEKIAN

  5. dean mengatakan:

    Mohon dikirim prosedur praktek kimia buat ujian yang sederhana tanggal 27 april 2009, alat dan bahan sangat minim. trims.deander03@gmail.com

  6. Rieza mengatakan:

    trims atas ilmu’y..

  7. DwightTump mengatakan:

    Слушайте,ну это уже обсуждалось где-то на сайте, пользуйтесь поиском
    ——
    купить диплом 2012

  8. Istanamurah mengatakan:

    pengen nimbah ilmu lagi.. jadi kangen kampus kalo baca ilmu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: